STOP DUGEM!!!
Stop Dugem mulai dari sekarang!!! Coba simak, kebiasaan yang biasanya dilakukan pada malam hari ini, tentu saja mengurangi waktu istirahat kita. Bahkan, seorang clubbers ’sejati’ bisa saja melakukannya lebih dari dua kali sepekan. Makan enak tanpa memperhatikan nutrisi, konsumsi alkohol berlebihan hingga mabuk, atau merokok tanpa kontrol ditambah berada di dalam ruangan dengan udara pengap, sirkulasi udara yang kurang baik untuk waktu yang cukup lama, memberi dampak buruk pada kesehatan. Hal inilah yang seringkali tidak disadari para clubbers saat berada di tempat clubbing.
Resiko terkena kanker paru-paru pun terbilang besar. Padahal, paru-paru adalah organ tubuh yang berperan penting dalam sistem pernapasan. Tempat tubuh mengambil darah bersih (kaya 02) dan tempat pencucian darah yang berasal dari seluruh tubuh (banyak C02) sebelum ke jantung untuk kembali diedarkan ke seluruh tubuh.
Bila frekuensi Anda di ruangan ber AC relatif sering, tentu saja resiko akan lebih besar. AC membuat kulit terasa kering. Karena AC merupakan suhu udara dengan menyerap panas dari lingkungan terdekat. Gas yang dikeluarkan pada AC beraksi dengan oksigen dan menghasilkan titik air. Proses yang lazim disebut Endotermal ini akibatnya, menurunkan kandungan air di udara sekitarnya.
Ancaman lainnya adalah alkohol. Yang berbahaya adalah bila Anda sudah menjadi pecandu alkohol. Mengonsumsi alkohol dalam jumlah besar dan rutin, akan mengakibatkan gangguan fisik, emosional dan masalah sosial. Alkohol menyebabkan ketergantungan, sehingga pikiran, perasaan dan kehendak si peminum terikat pada alkohol. Seorang pecandu alkohol akan sulit untuk berhenti minum alkohol. Pecandu akan tergantung secara fisik dan psikologis. Hal ini tidak saja mengganggu diri sendiri, tetapi juga orang di sekitarnya, khususnya keluarga dekat.
Belum lagi, gangguan audio yang dapat merusak telinga. Suasana club yang sangat kental dengan musik yang menggelegar, sangat mengancam pendengaran Anda. Normalnya, telinga manusia hanya mampu mendengar suara berfrekuensi 20 – 20 ribu Hertz dengan intensitas atau tingkat kekerasan di bawah 80 desibel (dB). Bunyi di atas itu kalau terus menerus dan dipaksakan bisa merusak pendengaran karena bisa mematikan fungsi sel-sel rambut dalam sistem pendengaran.
Sementara musik yang dimainkan di club biasanya memiliki tingkat kekerasan antara 100 – 110 dB jauh di atas batas normal kemampuan telinga. Besarnya pengaruh suara terhadap telinga memang banyak tergantung pada intensitas dan jangka waktu mendengarnya, jumlah waktu mendengar, serta kepekaan masing-masing, termasuk usia si pendengar. Gejala awal seringkali tidak dirasakan kecuali telinga berdengung, kemudian di ikuti oleh menurunnya pendengaran. Maka, bila Anda terbiasa mendengar musik dengan suara yang keras seperti di club, lambat-laun kepekaan telinga Anda menurun dan bisa menjadi tuli.
