Deejay [R] on the Blog

… Life is The Art of Drawing Without an Eraser. Tobat bow ..

Tubang … Tua Bangka Lupa Diri

with one comment

Tubang dipelukan pecun. Tubang siapa ini?? wekeke ..

Tubang siapa ini?? wekeke ..

Tubang – lebih halus bila di tulis – Tua Bangka atau Bandot Tua. Istilah yang tidak asing lagi untuk para lelaki hidung belang yg telah berusia matang. Istilah yg akrab di lingkungan para wanita panggilan, bispak, pecun, bisyar dan sejenisnya hehe ..

Sebutan Tubang, identik dengan bandot tua yg memelihara atau membiayai kehidupan seorang wanita simpanannya. Memanjakannya dengan materi demi mendapatkan pelayanan, cinta dan kasih sayang seorang wanita muda yg usianya lebih pantas menjadi anaknya.

Panggilan Tubang tidak akan sampai ke telinga si Tubang itu sendiri. Ya iyalah, mana mungkin sang cewek memanggil dengan panggilan ” mas Tubang” wekeke …

Papa, Papi atau Mas mungkin 68% telah menjadi panggilan default untuk para tubang tersebut.

Tubang dengan bodohnya rela menguras isi dompet demi memanjakan dan mendapatkan cinta, sayang dan terutama … tubuh si pujaan hati.

Memalukan, kasihan atau menjijik kan?

Dibawah ini sedikit pemikiran gue tentang mengapa tubang itu ada.

Oke, yang pertama .. mungkin, seorang tubang, baru bisa mengenal dan dikenal wanita wanita muda nan cantik pada saat ia telah berusia tidak muda lagi. Dengan kata lain, tubang jenis begini saat mudanya sudah pasti kere dan berwajah senin kemis pas-pasan. Dalam kondisi seperti itu, jangankan untuk meniduri wanita cantik, dilirik wanita cantik pun belom tentu. Kasihan betul … Nah saat dia diberikan kemudahan rezeki oleh Tuhan, walaupun sudah bau tanah, tidak mengapa duit habis yang penting khayalan di cintai dan disayangi oleh wanita cantik (yang dulunya saat ia muda mungkin hanya mimpi) bisa ia rasakan sebelum ajal menjemput.. ckckck .. lagi2 kasihan betul. Walau pun sudah pasti, sayang dan cinta dari wanita yang di pujanya itu semu.

Tubang, juga identik dengan muka badak atau tidak punya rasa malu. Selalu dandan parlente walo kulit sudah keriput. Gaya habis dengan aksesoris mentereng walo anak di rumah makan ikan asin dan nasi putih doang..

Gue punya pengalaman yang cukup mengiris hati ..

Saat gue masih aktif sebagai DJ, gue punya tamu yang bernama, sebut sajalah Bang Napi. Bang Napi ini berasal dari daerah NAD. Bila menginjakkan kaki ke Kota MDN, bagaikan raja, bang Napi selalu dikelilingi oleh cewek-cewek cantik, billing hingga jutaan dan menginap di hotel mewah berbintang. Bang Napi pun tak segan segan merogoh kocek atau memberikan sesuatu yang mahal – misalnya HP – kepada cewek yang disukainya walopun baru dikenalnya semalam. Bahkan ada cewek yang di sewakan sebuah rumah di salah satu komplek mewah di MDN.

Suatu ketika gue main keĀ  daerahnya bang Napi. Berbekal alamat yang diberikan oleh teman-temannya (karena bang Napi selalu bias kalo ditanya dimana ia tinggal di NAD) gue akhirnya berhasil menemukan rumahnya ..

Dan apa yang gue lihat adalah pemandangan yang sangat mengiris hati gue. Sebuah rumah papan, berlantaikan semen kasar terpampang di depan gue. Beberapa anak kecil dengan hanya mengenakan celana doang sedang duduk menikmati makan siangnya diatas sebuah piring melamin warna merah. Dan seorang wanita berbaju kaos sederhana dengan kain sarung sebagai bawahannya tampak sedang mengayun buah hatinya didalam ayunan yang dibuat dari kain sarung, besi dan pegas.

Apakah ini rumah dan keluarga bang Napi? begitulah batin gue bertanya. Dan pertanyaan itu terjawab ketika seorang lelaki yang sering di panggil “Boss Dugem” keluar dari kamarnya. Dia lah bang Napi. Abang sayang para cewek2 di tempat gue bekerja.

Gila men! Benar2 gila!

Bayangan gue bang Napi adalah pengusaha kelas kakap, dengan rumah gedung dan mobil mewah. Tetapi ini …

Ya Tuhan … Begitu tega dia meng-hambur2 kan duit di kota untuk dugem, sementara keadaan di rumahnya sangat menyedihkan!

Begitu gampang dia membelikan sebuah HP canggih untuk cewek yang baru dikenalnya, bahkan ada yang di sewakan sebuah rumah di komplek mewah.. sementara sang istri memakai sarung dan baju kaos yang sudah pudar dan sobek.

Yang paling mengiris hati gue adalah saat melihat anak-anak bang Napi makan hanya dengan ditemani nasi putih dan sepotong ikan goreng!

Astaghfirullah…

Dunia sudah edan. Manusia sudah tidak lagi punya hati nurani. Semua cara dihalalkan untuk mendapatkan dan memuaskan keinginannya.

Mulai saat itu, gue tidak mau lagi bila diberikan tips oleh bang Napi. Gue juga tidak mau lagi bila diajak gabung ke table nya. Gue merasa sangat bersalah dan berdosa dengan keluarga bang Napi yang ada di kampung. Mereka pasti menunggu dengan sabar sang ayah yang pamit untuk berdagang di kota. Mereka mendoakan sang ayah agar selamat di perjalanan dan sukses berdagang. Tapi kenyataannya, sang ayah justru sukses mendarat di pelukan para wanita pelacur.

Sungguh menyedihkan.

Apakah anda sama seperti bang Napi?

Written by djrio

June 29, 2009 at 1:01 pm

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. tua2x keparat!

    obong

    July 4, 2009 at 4:42 am


Leave a Reply